Pages

Senin, 20 Desember 2010

PENCEGAHAN PENYAKIT DALAM TINJAUAN ISLAM

0 komentar
 
Rasulullah bersabda: “Jagalah lima perkara sebelum datang lima perkara; muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati” (HR. Muslim)
1.Pendahuluan
Kita semua pasti sepakat bahwa salah satu karunia yang sangat berharga dalam hidup ini adalah kesehatan. Agar sehat, kita sering kali tidak merasa sayang menghabiskan uang yang tidak sedikit. Kita tiba-tiba menjadi tunduk dan patuh pada saran dan nasehat dokter atau tenaga terapi lainnya dan siap menjauhi segala larangannya karena ingin sehat. Bahkan yang lebih parah lagi, ada juga yang bersedia mengorbankan aqidah dan keimanannya demi untuk sehat.
Dapat dipastikan tidak seorangpun menginginkan sakit. Karena sakit identik dengan penderitaan, kesulitan dan keterbatasan. Namun tahukah kita, bahwa sakit adalah sunnatullah yang telah menyatu dengan kehidupan semua makhluk hidup di alam ini. Suka atau tidak, penyakit telah menjadi bagian dari kehidupan kita yang nyata adanya.
Readmore...

PERAN DAN KONTRIBUSI MUSLIMAH TERHADAP MORALITAS BANGSA

0 komentar
 
Wacana tentang perempuan selalu menarik dan seperti tak pernah habis untuk digali. Sudah sedemikian banyak topik yang dibicarakan berkisar tentang perempuan, namun sejauh ini kajian-kajian tentang keperempuanan tetap aktual dan terus diminati. Hal ini seperti mengamini ramalan Naisbit bahwa di abad 21 ini kiprah perempuan akan semakin mengemuka dan bahkan muncul ke panggung negara. Perempuan telah menjadi salah satu issu yang selalu diusung dalam berbagai forum internasional. MDGs (Millenium Development Goals) adalah salah satu contoh. Dalam deklarasinya, pertemuan yang dihadiri 189 negara itu menyetujui bahwa sebelum tahun 2015 semua negara-negara penanda tangan kesepakatan tersebut harus telah melakukan 8 poin program penting, diantaranya persamaan gender, kesetaraan identitas kultural antara laki-laki dan perempuan.
Readmore...

الاجتهاد- تعريفه, ادواته و ضوابطه ( PENGERTIAN, PERANGKAT DAN PATOKAN IJTIHAD)

0 komentar
 
A. Pendahuluan
Nash (teks) Al-Qur’an dan Al-Hadits dipandang dari penunjukkan makna (dalalah) dan datangnya nash (wurud) terbagi menjadi dua yaitu qath’yi (pasti) dan dzanniy (dugaan). Nash qaht’iy adalah dalil-dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits yang pasti dan jelas penunjukan hukumnya, sehingga tidak perlu penjelasan tambahan untuk mendapatkan hukum yang terkandung dalam nash tersebut. Seperti nash tentang keberadaan Allah, mukjizat Rasul, kewajiban sholat lima waktu, larangan minum khamar, dll. Sedang nash dzanniy adalah dalil-dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits yang tidak jelas atau tidak pasti penunjukkan hukumnya, sehingga membutuhkan penjelasan untuk mendapatkan hukum yang terkandung didalamnya.
Readmore...
Minggu, 19 Desember 2010

KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM ISLAM

0 komentar
 
Islam adalah agama yang memberikan tatanan dan aturan yang lengkap bagi pemeluknya dalam menjalani kehidupan. Islam bukan hanya mengatur tata cara melakukan peribadatan kepada Sang Pencipta, namun juga memberikan arahan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, baik yang bersifat individual dan atau yang bersifat kolektif.
Salah satu aspek kehidupan ummat manusia yang menjadi perhatian Islam adalah politik. Politik menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam. Berpolitik bukan hanya bermakna melakukan berbagai urusan yang berhubungan dengan kekuasaan, namun juga upaya menciptakan sistem yamg bersih dan berkeadilan. Itulah mengapa Syaikh Ibnul Qoyyim menyebutkan bahwa politik sebagai kegiatan yang menjadikan ummat manusia mendekat kepada hidup maslahat dan menjauhkan diri dari kerusakan, meskipun Rasulullah tidak meletakkannya dan wahyu tidak menurunkannya. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa setiap jalan yang ditempuh untuk menciptakan keadilan, maka itu adalah agama.
Readmore...

ISRAILIYYAT DALAM TAFSIR AL-QUR’AN

4 komentar
 


            Seluruh kaum muslimin sepakat bahwa al-Quran adalah sumber utama dan pertama dalam ajaran Islam. Dapat dikatakan, bagi kaum muslimin, al-Qur’an adalah manuskrip langit yang paling otentik, yang telah dijamin oleh Allah SWT. akan terjaga dari berbagai bentuk pemalsuan dan perubahan.
            Perhatian dan kecintaan kaum muslimin terhadap al-Qur’an sangatlah besar. Al-Qur’an tidak hanya dibaca dan dihafal oleh jutaan kaum muslimin di setiap masa. Namun juga dipelajari, mulai dari bagaimana cara membaca makhraj dan hurufnya, cara  penulisan (rasam) al-Qur’an, cara menafsirkan, sampai kepada  hal yang paling kecil, seperti menghitung jumlah surah, ayat, kata, bahkan huruf-huruf dalam al-Qur’an. Bahkan sekarang kaum muslimin sudah mulai menggali kemu’jizatan al-Qur’an yang dihubungkan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.
            Di antara usaha yang dilakukan kaum muslimin untuk mempelajari al-Qur’an adalah melalui pemahaman dan tafsir. Para ulama mencurahkan perhatian dalam tafsir al-Qur’an ini dengan tujuan untuk mendapatkan pengetahuan tentang apa yang dikehendaki Allah, sehingga al-Qur’an dapat difahami dengan baik dan diamalkan  dengan benar.
Paling tidak ada tiga istilah yang dipakai para ulama untuk menyebut aliran yang dipakai oleh para ulama mufassir dalam menafsirkan al-Qur’an, yaitu tafsir bi al-riwayat, disebut juga tafsir bi al-ma’tsur atau tafsir bi-al-manqul (menafsirkan al-Qur’an  berdasarkan riwayat dari Rasulallah, Sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in ), yang kedua tafsir bi al-dirayah, disebut juga tafsir bi al-ra’yi wa al-ijtihad atau tafsir bi al-ma’qul ( menafsirkan al-Qur’an dengan bersandarkan kepada dirayat yaitu rasio dan olah pikir serta penelitian terhadap kaidah-kaidah bahasa), dan tafsir bi al-isyarat atau tafsir isyari (disandarkan kepada tafsir sufiyah, yaitu menafsirkan al-Qur’an bukan dengan makna dzahirnya, melainkan dengan suara hati nurani).[1]
 Para sahabat umumnya memakai tafsir bi al-ma’tsur dari pada tafsir bi al-ra’yi, sebab mereka sangat berhati-hati dari menjelaskan al-Qur’an berdasarkan pendapat pribadi. Para ulama sepakat bahwa tafsir bi al-ma’tsur ini dianggap sebagai metode tafsir yang paling utama dan lebih selamat dari berbagai kemungkinan penyimpangan. Namun demikian bukan berarti tafsir dengan riwayat ini tidak ada sisi kelemahannya. Diantara kelemahan tafsir bi al-ma’tsur adalah adanya riwayat yang dhaif, mungkar dan maudhu dari riwayat yang disandarkan kepada  Rasulallah, sahabat dan tabiin. Termasuk juga masuknya riwayat-riwayat israiliyyat, yang sulit dideteksi kebenarannya, meskipun riwayat israiliyyat ini pada umumnya sekedar kisah yang menjelaskan  sesuatu yang tidak disebutkan dalam al-Qur’an secara detil.[2]
Keberadaan riwayat-riwayat israiliyyat dalam kitab-kitab tafsir dikhawatirkan dapat menimbulkan khurafat dan dapat merusak aqidah islamiyyah. Disamping itu kisah-kisah israiliyyat tersebut membuka celah bagi para musuh Islam untuk mengatakan bahwa ajaran Islam adalah agama ciptaan Muhammad yang dipadukan dari ajaran Yahudi dan Nasrani. Dan bahwa al-Qur’an adalah kitab karangan Muhammad, disebabkan isinya yang banyak membincang tentang kaum-kaum dan nabi-nabi terdahulu yang juga terdapat dalam kitab Taurat dan Injil.
Permasalahan tentang riwayat israiliyyat, sesungguhnya telah menjadi suatu tema bahasan yang sudah secara panjang lebar  dibahas oleh para ulama. Makalah yang sangat terbatas ini hanya sekedar menghimpun dan mengulang  segala yang telah dibahas dalam banyak kitab dan risalah tentang israiliyyat tersebut.    
       
Readmore...