Pages

Minggu, 19 Desember 2010

ISRAILIYYAT DALAM TAFSIR AL-QUR’AN

0 komentar
 


            Seluruh kaum muslimin sepakat bahwa al-Quran adalah sumber utama dan pertama dalam ajaran Islam. Dapat dikatakan, bagi kaum muslimin, al-Qur’an adalah manuskrip langit yang paling otentik, yang telah dijamin oleh Allah SWT. akan terjaga dari berbagai bentuk pemalsuan dan perubahan.
            Perhatian dan kecintaan kaum muslimin terhadap al-Qur’an sangatlah besar. Al-Qur’an tidak hanya dibaca dan dihafal oleh jutaan kaum muslimin di setiap masa. Namun juga dipelajari, mulai dari bagaimana cara membaca makhraj dan hurufnya, cara  penulisan (rasam) al-Qur’an, cara menafsirkan, sampai kepada  hal yang paling kecil, seperti menghitung jumlah surah, ayat, kata, bahkan huruf-huruf dalam al-Qur’an. Bahkan sekarang kaum muslimin sudah mulai menggali kemu’jizatan al-Qur’an yang dihubungkan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.
            Di antara usaha yang dilakukan kaum muslimin untuk mempelajari al-Qur’an adalah melalui pemahaman dan tafsir. Para ulama mencurahkan perhatian dalam tafsir al-Qur’an ini dengan tujuan untuk mendapatkan pengetahuan tentang apa yang dikehendaki Allah, sehingga al-Qur’an dapat difahami dengan baik dan diamalkan  dengan benar.
Paling tidak ada tiga istilah yang dipakai para ulama untuk menyebut aliran yang dipakai oleh para ulama mufassir dalam menafsirkan al-Qur’an, yaitu tafsir bi al-riwayat, disebut juga tafsir bi al-ma’tsur atau tafsir bi-al-manqul (menafsirkan al-Qur’an  berdasarkan riwayat dari Rasulallah, Sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in ), yang kedua tafsir bi al-dirayah, disebut juga tafsir bi al-ra’yi wa al-ijtihad atau tafsir bi al-ma’qul ( menafsirkan al-Qur’an dengan bersandarkan kepada dirayat yaitu rasio dan olah pikir serta penelitian terhadap kaidah-kaidah bahasa), dan tafsir bi al-isyarat atau tafsir isyari (disandarkan kepada tafsir sufiyah, yaitu menafsirkan al-Qur’an bukan dengan makna dzahirnya, melainkan dengan suara hati nurani).[1]
 Para sahabat umumnya memakai tafsir bi al-ma’tsur dari pada tafsir bi al-ra’yi, sebab mereka sangat berhati-hati dari menjelaskan al-Qur’an berdasarkan pendapat pribadi. Para ulama sepakat bahwa tafsir bi al-ma’tsur ini dianggap sebagai metode tafsir yang paling utama dan lebih selamat dari berbagai kemungkinan penyimpangan. Namun demikian bukan berarti tafsir dengan riwayat ini tidak ada sisi kelemahannya. Diantara kelemahan tafsir bi al-ma’tsur adalah adanya riwayat yang dhaif, mungkar dan maudhu dari riwayat yang disandarkan kepada  Rasulallah, sahabat dan tabiin. Termasuk juga masuknya riwayat-riwayat israiliyyat, yang sulit dideteksi kebenarannya, meskipun riwayat israiliyyat ini pada umumnya sekedar kisah yang menjelaskan  sesuatu yang tidak disebutkan dalam al-Qur’an secara detil.[2]
Keberadaan riwayat-riwayat israiliyyat dalam kitab-kitab tafsir dikhawatirkan dapat menimbulkan khurafat dan dapat merusak aqidah islamiyyah. Disamping itu kisah-kisah israiliyyat tersebut membuka celah bagi para musuh Islam untuk mengatakan bahwa ajaran Islam adalah agama ciptaan Muhammad yang dipadukan dari ajaran Yahudi dan Nasrani. Dan bahwa al-Qur’an adalah kitab karangan Muhammad, disebabkan isinya yang banyak membincang tentang kaum-kaum dan nabi-nabi terdahulu yang juga terdapat dalam kitab Taurat dan Injil.
Permasalahan tentang riwayat israiliyyat, sesungguhnya telah menjadi suatu tema bahasan yang sudah secara panjang lebar  dibahas oleh para ulama. Makalah yang sangat terbatas ini hanya sekedar menghimpun dan mengulang  segala yang telah dibahas dalam banyak kitab dan risalah tentang israiliyyat tersebut.    
        <!-- more -->    
B. Pengertian Israiliyyat
            Kata israiliyyat adalah bentuk jama’ dari israiliyyah. Ada beberapa pengertian yang dipakai untuk menjelaskan arti israilliyat, namun secara umum pengertian  israiliyyat adalah kisah atau berita yang diriwayatkan dari sumber-sumber yang berasal dari orang Israil. Israil (bahasa Ibraniyah: isra artinya hamba dan il artinya Tuhan/Allah) itu sendiri merupakan gelar yang diberikan kepada nabi Ya’kub bin Ishaq bin Ibrahim. Maka  Bani Israil adalah sebutan untuk anak keturunan nabi Ya’kub  Nama ini kemudian dihubungkan dengan Yahudi, sehingga orang-orang Yahudi disebut Bani Israil.
            Para ulama menggunakan istilah israilliyat untuk riwayat yang didapat dari orang-orang Yahudi dan Nasrani, baik berupa kisah-kisah atau dongengan yang umumnya berkaitan dengan fakta-fakta sejarah, keadaan umat pada masa lampau dan berbagai hal yang pernah terjadi pada para  nabi dan Rasul, serta informasi tentang penciptaan manusia dan alam.[3]
            Selanjutnya istilah israilliyat juga ditujukan untuk semua penafsiran kisah-kisah dalam al-Qur’an yang tidak diketahui sumber dan asal-usulnya, atau disebut juga al-dakhil, yang banyak terdapat di dalam kitab-kitab tafsir lama. Seperti kitab tafsir:
-          Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an karya Ath-Thabari yang mengutip banyak cerita israiliyat yang mayoritas diambil dari Wahab ibn Munabbih seorang tokoh israiliyat
-          Ibnu Katsir yang meskipun dinyatakan kitab tafsir yang paling selamat dari kisah israiliyat, namun tetap mencantumkan kisah israiliyat dibeberapa bagiannya,
-           Ma’alim al-Tanzil karya Al-Baghawi
-           Al-Jawahir al-Hisan fi Tafsir al-Qur’an karya Al-Tsa’labi
-           Libaab al-Ta’wil fi Ma’ani al-Tanzil karya Al-Khazin
-           Al-Ma’ani karya Al-Aalusi
-           Al-Jami’ al-Ahkam al-Qur’an karya Al-Qurthubi
-           Al-Kasysyaf  karya Al-Zamakhsyari
-           Dur al-Mantsur fi Tafsir al-Ma’tsur karya Al-Syuyuti,
-           dan lain sebagainya.[4]
Israiliyyat digunakan dalam penafsiran dikarenakan ada kesamaan antara al-Qur’an dengan Taurat dan Injil dalam sejumlah masalah, khususnya mengenai kisah-kisah umat terdahulu, dimana dalam al-Qur’an dikisahkan secara singkat dan ringkas (ijaz), namun di dalam kitab-kitab sebelumnya dibahas secara panjang lebar (ithnab). Sebagian contoh kisah-kisah israiliyyat yang dijumpai dalam kitab-kitab tafsir adalah:   tentang perahu nabi Nuh, tentang nama-nama ashab al-kahfi beserta anjing mereka, tentang Ya’juj dan Ma’juj, tentang Balqis ratu negeri Saba’, tentang nabi-nabi: Sulaiman, Ayyub, Daud, Yusuf, tentang Dzul-qarnain, tentang malaikat Harut dan Marut, tentang tongkat nabi Musa, dan lain-lain.



C. Latar Belakang Timbulnya Israilyyat
            Menurut Ibnu Khaldun, sebagaimana dikutip Mana’ al-Qaththan dalam Mabahits fi Ulum al-Qur’an, dalam sejarah diketahui bahwa  orang-orang Arab telah berinteraksi dengan orang Yahudi jauh sebelum Rasulallah Muhammad datang membawa Islam. Orang-orang Arab adakalanya menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan penciptaan alam semesta, rahasia-rahsia yang terkandung dalam penciptaan alam, sejarah masa lalu, tokoh-tokoh tertentu, atau tentang suatu peristiwa yang pernah terjadi pada suatu masa, kepada orang-orang Yahudi karena mereka memiliki pengetahuan yang didapat dari kitab Taurat atau kitab-kitab agama mereka lainnya.[5]
            Setelah Islam datang, ada sebagian kecil orang Yahudi yang menerima ajaran Islam dan menjadi muslim, seperti Abdullah bin Salam dan Ka’ab al-Ahbar (masuk Islam pada masa pemerintahan Umar). Para sahabat seperti Abu Hurairah dan Ibnu Abbas pernah bertanya kepada orang orang-orang Yahudi yang  telah muslim ini tentang beberapa peristiwa masa lalu, namun terbatas pada sesuatu yang tidak berhubungan dengan akidah dan ibadah. Ini artinya bahwa israiliyyat merupakan salah satu rujukan dalam menafsirkan al-Qur’an pada masa sahabat, hanya saja mereka menganggap itu sebagai suatu kebolehan saja, bukan keharusan. Setelah Rasulallah wafat, para sahabat tidak lagi bisa mendapatkan orang yang bisa memberi penjelasan terhadap suatu ayat yang ingin mereka pahami, sehingga dalam hal-hal yang terkait dengan peristiwa umat terdahulu, mereka menanyakan kepada sahabat yang dulunya ahli kitab.[6]
 Barangkali para sahabat yang menyampaikan berita israiliyyat ini tidak bermaksud menyampaikan berita bohong. Sebab selama mereka memeluk agama lamanya, kisah-kisah itulah yang mereka punya. Dan ketika ayat al-Qur’an menyinggung kisah yang sama, merekapun memberi komentar berdasarkan apa yang pernah mereka baca dari kitab-kitab mereka sebelumnya. Kalaupun ada kebohongan atau dusta, bukan terletak pada sahabat itu, melainkan dusta itu sudah sejak lama ada dalam agama mereka sebelumnya.
            Rasulallah sendiri dalam menyikapi berita dari kalangan sahabat yang dulunya ahli kitab sangatlah bijaksana. Beliau tidak menggeneralisir bahwa semua yang bersumber dari Yahudi pasti salah dan demikian juga tidak langsung membenarkannya. Beliau hanya mengingatkan untuk berhati-hati dalam menerimanya, dengan sabdanya:
ولا تصدقوا اهل الكتاب ولا تكذبوهم وقولوا امنا بالله وما انزل الينا (البخارى)                                                     
 Dan  janganlah kalian membenarkan ahli kitab  dan jangan pula mendustakan mereka, katakanlah kami telah beriman kepada Allah dan segala yang Ia turunkan kepada kami”                Namun setelah masa tabiin, proses periwayatan israiliyat ini semakin aktif disebabkan kecendrungan masyarakat untuk mendengarkan cerita-cerita yang agak luar biasa. Di masa ini penafsiran al-Quran dengan israiliyyat menjadi sesuatu yang sangat penting. Hal ini disebabkan karena, di satu sisi, semakin banyak ahli kitab yang memeluk ajaran Islam dan di sisi yang lain, kecendrungan manusia untuk mengetahui segala sesuatu (termasuk tentang umat terdahulu), terpenuhi dengan keberadaan kisah-kisah israiliyyat ini. Sehingga pada masa tabiin ini muncul kelompok yang disebut al-qashshash, yaitu para penyampai berita yang tidak bertanggung jawab.
 Cerita-cerita israiliyat pada masa tabiin banyak bersumber dari Wahab ibn Munabbih, seorang Yahudi dari Yaman yang memeluk Islam, Muhammad ibn Sa’ib al-Kalbi, Muqatil ibn Sulaiman, Muhammad ibn Marwan al-Suddi dan Abdul Malik ibn Abdul Aziz ibn Juraij seorang Nasrani berbangsa Romawi yang kemudian masuk Islam.[7]
Lambat laun pengaruh israliyyat ini sangat besar dalam penafsiran al-Qur’an, sehingga hampir semua kitab tafsir memuatnya. Para mufassir pada masa itu sangat berbaik sangka kepada segala pembawa berita. Mereka beranggapan bahwa orang yang sudah masuk Islam, tentu tidak akan berdusta. Itulah sebabnya para mufassir ketika itu tidak mengoreksi dan memeriksa lagi kabar-kabar yang mereka terima. Lagi pula para mufassir ketika memuat israiliyyat, sifatnya hanya menghimpun data, tanpa meneliti mana yang shohih dan yang tidak shohih. Seperti Al-Thabari yang lebih menekankan kepada pencatatan semua hal yang berkaitan dengan suatu ayat.
            Suatu hal yang cukup menarik, manurut Dr.Yusuf Qaradhawi, bahwa  kisah-kisah yang diistilahkan dengan israiliyyat itu ternyata tidak atau jarang terdapat dalam kitab-kitab induk kalangan ahli kitab itu sendiri. Kisah-kisah tersebut hanya berkembang dari mulut ke mulut dikalangan masyarakat awam Yahudi dan Nasrani, yang kemudian disampaikan  kepada kaum muslimin. Menurut analisa Al-Qaradhawi, penyampaian riwayat israiliyyat ini disamping sebagai hasil interaksi sosial yang terjadi antara masyarakat Arab dan kaum Yahudi, juga ada unsur kesengajaan dari kalangan Yahudi untuk menyebarkannya.
            Sebagaimana telah diketahui, bahwa kaum muslimin telah berinteraksi dengan orang-orang Yahudi sejak hijrahnya Rasulallah ke Madinah, dimana penduduknya terdiri dari komunitas Arab dan Yahudi yang telah menetap di sana cukup lama. Kekalahan Yahudi dalam perang Khaibar, meninggalkan dendam pada hati kaum Yahudi, untuk bisa mengalahkan kaum muslimin dengan cara lain. Maka senjata budaya menjadi pilihan yang paling mungkin, sebab tidak memerlukan biaya, tenaga dan pasukan yang banyak. Mereka mulai menyusupkan berita-berita israiliyyat agar tercampur dengan berita-berita yang datangnya dari Allah dan Rasulnya.[8]
Kalangan Yahudi sangat mengetahui bahwa Rasulallah begitu perduli terhadap kemurnian ajaran Islam, sehingga disebutkan dalam satu hadits yang meriwayatkan bahwa Rasulallah pernah melihat Umar ibn al-Khattab memegang suatu lembaran Taurat di tangannya, maka Rasulallah SAW. dengan nada tidak senang bersabda:
اومتهوكون بها يا بن الخطاب؟ لقد جئتكم بها بيضاء نقية. والذى نفسى بيده, لو كان موسى حيا ما وسعه الا ان يتبعنى   
“Apakah engkau masih meragukan agamamu, wahai Ibnu al-Khattab? Padahal aku telah membawa agama ini kepada kalian dengan terang dan sejelas-jelasnya. Demi Dzat yang jiwaku dalam genggaman-Nya, seandainya Musa hidup pasti dia akan mengikutiku”(HR. Ahmad, Abu Ya’la, dan al-Bazzar)
           
D. Bentuk Informasi Israiliyyat
            Sebagaimana telah disinggung dimuka, bahwa riwayat israiliyyat sebagian besar dibawa oleh orang Yahudi yang telah masuk Islam. Pada umumnya riwayat-riwayat ini bersifat berhenti (mauquf) sampai  sahabat, bukan marfu’ kepada Rasulallah. Informasi israiliyyat pada masa sahabat dan tabi’in pada umumnya dimanfaatkan untuk memberi gambaran yang lebih detil tentang; tafsir al-Qur’an, syarah hadits-hadits, fakta-fakta sejarah, kisah nabi-nabi dan umat terdahulu, dan kejadian alam.
Bentuk dongeng atau kisah israiliyyat itu sendiri dapat dicirikan dengan salah satu dari beberapa ciri berikut:
  1. Persoalan yang biasa dibahas adalah tentang asal-usul dan rahasia kejadian alam semesta. Seperti penjelasan tentang Qaf (nama sebuah surat dalam al-Qur’an), menurut sebuah riwayat israiliyyat, Qaf adalah nama sebuah gunung yang mengelilingi bumi. 
  2. Kisah-kisah nabi-nabi terdahulu yang sangat berlebihan, seperti kisah yang menceritakan kesabaran nabi Daud ketika tertimpa musibah penyakit, di mana digambarkan nabi Daud mengutip kembali ulat-ulat yang berjatuhan dari luka penyakitnya dan meletakkan  kembali ke tempatnya semula.
  3. Perincian terhadap sesuatu yang tidak dijelaskan secara detil oleh al-Qur’an. Seperti tentang jenis pohon di surga yang Allah larang nabi Adam mendekatinya.
  4. Pelanggaran terhadap kesucian nabi-nabi. Seperti kisah nabi Daud yang membunuh seorang tentaranya yang bernama Oraya untuk mendapatkan istri Oraya yang cantik padahal nabi Daud sendiri telah memiliki 99 orang istri.
  5. Kisah-kisah yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah. Seperti kisah bahwa istri nabi Nuh termasuk orang yang selamat dari azab banjir.
  6. Ada keterangan yang menyebutkan bahwa riwayat tersebut diambil dari ahli kitab.
  7. Ada keterangan yang menyebutkan bahwa riwayat tersebut ada kelemahan.
  8. Adanya kisah-kisah yang sama tapi bertentangan isinya. Seperti tentang penentuan anggota badan lembu betina, ada yang menyebut bagian paha, lidah, ekor, dsb.
  9. Isi ceritanya aneh dan pelik. Seperti bahwa jumlah alam ada sekitar 18.000 atau 14.000.
  10. Kisah-kisah yang mengandung khurafat. Seperti kisah gergaji ‘Aaj ibn Unuq.
  11. Kisah-kisah tentang masa lampau atau kaum-kaum terdahulu. Seperti kisah tentang kerusakan Bani Israil.[9]

E. Sikap Ulama tentang Adanya Israiliyyat dalam Tafsir
 Para ulama tidak dapat menetapkan hukum secara mutlaq atau general terhadap kisah-kisah israiliyyat. Hal ini disebabkan ada dalil yang membolehkan untuk mengambil informasi dari kalangan Ahli Kitab, yaitu sabda Rasulallah:
وحدثوا عن بنى اسرائيل ولا حرج و من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار( البخارى)              بلغوا عنى ولو اية,
“Sampaikannlah dariku walau hanya satu ayat. Dan ambillah riwayat dari Bani Israil, tanpa halangan, dan barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka bersiap-siaplah untuk mengambil tempatnya di neraka” (HR. Bukhari)
Namun ada juga hadits Rasulallah yang seolah-olah melarang hal tersebut, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas berikut ini:
كيف تسألون أهل الكتاب عن شىء وكتابكم الذى أنزل على رسول الله أحدث, تقرؤون محضا لم يشب؟!, وقد حدثكم أن أهل الكتاب بدلوا كتاب الله وغيروه , وكتبوا بأيديهم الكتاب. وقالوا هو من عند الله ليشتروا به ثمنا قليلا, ألا ينهاكم ما جاءكم من العلم عن مسألتهم, لا و الله ما رأينا منهم رجلا يسألكم عن الذى أنزل عليكم                                                      
“Bagaimana kalian bertanya kepada ahli kitab, sedangkan kitab kalian diturunkan kepada Nabi kalian yang beritanya lebih baru dari Allah, kalian membacanya dan tidak mencela?!. Allah memberitahukan kapada kalian bahwa ahli kitab telah mengganti apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan merubahnya dengan tangan-tangan mereka, kemudian mereka mengatakan bahwa ia berasal dari Allah untuk menjualnya dengan harga yang murah. Tidakkah Ia telah melarang kalian untuk bertanya kepada mereka. Demi Allah, mereka tidak menanyakan sesuatupun kepada kalian tentang apa yang diturunkan kepada kalian.”(HR. Al-Bukhari)
Menyikapi kedua dalil diatas yang seolah bertentangan ini, para ulama mendudukkannya sebagai berikut; bahwa yang dimaksud Rasulallah untuk mengambil riwayat dari ahli kitab sesungguhnya  tidaklah mutlaq, namun terikat hanya kepada riwayat yang baik dan cerita yang tidak jelas status benar atau dustanya namun tidak ada indikasi tentang kebatilannya.  
Ibnu Katsir menjelaskan dalam muqaddimah tafsirnya bahwa riwayat israiliyyat dapat diklasifikasikan menjadi tiga:
  1. Kisah israiliyyat yang diketahui kebenarannya karena sesuai atau tidak bertentangan dengan informasi al-Qur,an dan Sunnah shahihah, maka kisah itu benar dan bisa diterima. Diperbolehkan menggunakannya sebagai pembanding, bukan sebagai rujukan utama atau sebagai sumber hukum. Seperti kisah yang menceritakan bahwa nama teman seperjalanan   nabi Musa adalah Khidir. Nama Khidir pernah disebutkan oleh Rasulallah, sebagaimana tersebut dalam Shahih Bukhari.
  2. Kisah israiliyyat yang diketahui kebohongannya karena bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah shahihah atau tidak sejalan dengan akal sehat Kisah seperti ini harus dibuang dan tidak boleh digunakan. Seperti cerita malaikat Harut dan Marut yang terlibat perbuatan dosa besar, yaitu mabuk, berzina dan membunuh.
  3. Kisah israiliyyat yang didiamkan karena tidak dapat dipastikan statusnya benar atau dusta. Kisah seperti ini tidak boleh dibenarkan ataupun didustakan, namun boleh menceritakannya.  Seperti kisah tentang bagian sapi betina yang diambil untuk dipukulkan kepada orang mati dari Bani Israil.[10]
Ibnu Katsir juga menyatakan bahwa meskipun sebagian ulama salaf merekomendasikan kebolehan meriwayatkan israiliyyat  tanpa  mengamalkannya, namun sesungguhnya riwayat-riwayat ini tetap tidak ada gunanya dan tidak bermanfaat dalam masalah agama. Kalaupun ada yang beranggapan israiliyyat ini  bermanfaat untuk kesempurnaaan informasi yang terdapat dalam agama, maka manfaat itu sangat kecil dan tidak signifikan.
Para ulama, semisal Anas ibn Malik sangat berhati-hati terhadap periwayatan israiliyyat ini, sehingga untuk itu ia menyeleksi dengan ketat para perowi yang akan ia ambil hadits darinya. Qatadah adalah salah satu rawi tabiin yang ditolak riwayatnya oleh Anas ibn Malik karena ia banyak meriwayatkan israiliyyat.[11]
Keberadaan israiliyyat yang telah dinyatakan tidak memberi manfaat bagi agama ini, dikomentari oleh Yusuf Al-Qaradhawi secara tegas  bahwa mengutip israiliyyat di dalam kitab tafsir, seolah-olah  seperti memenuhi berlembar-lembar halaman dan membuang-buang waktu bagi sesuatu yang tidak didukung ilmu, yang tidak dapat dijadikan petunjuk dan keterangan.[12]
Namun karena israiliyyat ini telah tersebar di sebagian kitab-kitab tafsir, maka diperlukan kejelian dan kehati-hatian, bagi siapa saja yang mendapati berita-berita yang bernuansa israiliyyat, yaitu dengan  mengikuti kaidah-kaidah dalam periwayatan israiliyyat, sebagai berikut:
  1. Melakukan penelitian terhadap rawi-rawi sanadnya
  2. Melakukan pengamatan terhadap matan atau kandungan riwayat tersebut
  3. Merujuk kepada para ulama yang mendalami persoalan ini, seperti:
-          Ibnu Hazm dalam kitab al-Fashl fi al-Milal wa Ahwal al-Nihal
-          Al-Thabari dalam kitab Tarikh al-Umam wa al-Muluk
-          Al-Qadhi Iyadh dalam Kitab al-Syifa’ bi Ta’rif Huquq al-Musthafa
-          Ibnu Taimiyyah dalam kitab al-Nubuwwah dan al-Jawabu al-shahih li man Baddala Diin al-Masih
-          Ibn Al-Qayyim dalam kitab Hidayah al-Hiyar fi Ajwibat al-Yahud wa al-Nashara
-          Ibn al-Katsir dalam kitab tafsirnya dan kitab al-Bidayah wa al-Nihayah
-          Al-Hindi dalam kitab Izhar al-Haq
-          Jamaluddin al-Qasimi dalam kitab Mahasin al-Ta’wil
-          Muhammad Husin al-Zahabi dalam kitab al-Israiliyyat fi al-Tafsir wa al-Hadits dan Kitab al-Tafsir wa al-Mufassirun
-          Dll.

F. Penutup
            Metode yang dipakai al-Qur’an dalam menceritakan umat-umat terdahulu memang tidak bersifat rinci dan detil. Al-Qur’an tidak mengulas secara runut nama-nama tokoh, tempat dan waktu kejadian atau bagian lain dari cerita tersebut. Karena al-Qur’an memang bukan buku cerita yang memaparkan setiap episodenya dengan rinci. Akan tetapi tujuan al-Qur’an mengangkat sebuah kisah lebih kepada pelajaran (ibrah) dan nilai-nilai yang bisa terwujud dengan pemaparan tersebut.   Firman Allah SWT.:
لقد كان فىقصصهم عبرة لأولى الألبب,ما كان حديثا يفترى ولكن تصديق الذى بين يديه وتفصيل كل شىء وهدىورحمة لقوم يؤمنون                                                                                                                                      
“sesungguhnya pada kisah-kisah mereka ada terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dbuat-buat, akan tetapi membenarkan  (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”(Yusuf /12:111)
            Keberadaan israiliyyat yang sudah terlanjur masuk ke dalam sebagian kitab-kitab tafsir, dan  turut memberikan penjelasan terhadap suatu kisah yang diangkat oleh al-Qur’an memang menjadi suatu hal yang dilematis. Terlepas dari kebolehan mengambil riwayat israiliyyat sebagaimana tersebut di atas, sesungguhnya masih ada pertanyaan yang tertinggal; bagaimana mungkin ayat- ayat yang datangnya dari Yang Maha Benar, dijelaskan dan dirinci oleh sesuatu yang tidak jelas kebenarannya.  Dengan kata lain, mengutip israiliyyat di samping ayat-ayat Allah, tidakkah itu berarti memberi kesan bahwa berita yang tidak jelas kebenaran dan dustanya itu dapat menjadi penjelas makna firman Allah dan menjadi pemerinci apa yang disebut secara global di dalamnya.
            Di seluruh dunia Islam, cerita-cerita israiliyyat kini telah tersebar luas melalui media tulisan yang terdapat di kitab-kitab tafsir atau pada kitab-kitab lainnya, demikian juga cerita-cerita ini telah beralih dari mulut ke mulut, melalui khutbah, ceramah, pengajaran di madrasah dan lain sebagainya. Disampaikan oleh berbagai kalangan dari umat ini, mulai orang awam sampai kepada orang terpelajar. Tentu menjadi tidak mudah untuk membersihkan israiliyyat yang sudah tersebar di masyarakat ini.
            Sikap bijaksana yang seharusnya diambil oleh muslim yang mempelajari al-Qur’an ketika berhadapan dengan ayat-ayat  yang mubham (tidak jelas), adalah mencari penjelasannya pada ayat-ayat lainnya, jika tidak dijumpai penjelasannya dalam al-Qur’an, maka hendaklah ia mencari dari hadits-hadits shohihah, dan jika pada haditspun tidak  dijumpai, maka biarkanlah ayat tersebut dalam kemubhamannya.[13]
Namun pada kenyataannya seringkali kita tidak merasa puas dengan pola seperti itu dan tergoda untuk mencari dan memberi interpretasi sendiri. Disatu sisi, sikap seperti itu memang tidak salah, sebab para ulama telah menbuka peluang tafsir bi al-ra’yi wa al-ijtihad dengan berbagai persyaratan tentunya. Namun disisi lain,  jika sang ‘pencari’ ini kurang taqwanya kepada Allah, bukan tidak mungkin ia akan berkata atas kekuasaan Allah tanpa didasari ilmu, dan dapat keluar dari pemahaman yang Qur’ani. (Wallahu a’lam)

 
           

           


[1] Muhammad Ali al-Shabuni, Al-Tibyan fi Ulum al-Qur’an (Beirut: Alim al-Kutub, 1405 H), hal.67.
[2] Ibid, hal. 71
[3] Ahmad Zuhri, Risalah Tafsir: Berinteraksi dengan al-Qur’an Versi Imam Al-Ghazali (Bandung: Cita Pustaka Media,2007), hal. 135.
[4] Lihat buku Al-Israiliyyat wa al-Maudlu’at fi Kutubi al-Tafsir oleh Muhammad ibn Muhammad Abu Syuhbah, cet. 4, Kairo: Maktab al-Sunnah, 1408 H.
[5] Mana’ Al-Qaththan, Mabahits fi Ulum al-Qur’an, Cet. 3 (Riyadh: Mansyurat al-‘Ashr al-Hadits, 1393 H/  1973 M), hal. 355.
[6] Abu Fida’ Ismail ibn Katsir al-Qurasyi al-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Katsir, jilid 1 (Beirut: Dar al-Fikr, 1407 H/ 1986 M), hal. 5.
[7] Muhammad Hasbi Ash-Shiddiedy, Sejarah & Pengantar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Cet.3 (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000), hal.212.
[8] Al-Qaradhawi, Berinteraksi dengan Al-Qur’an, Terjemahan Abdul Hayyie al-Kattani, cet. 2 ( Jakarta: Gema Insani Press, 2000), hal. 495.
[9] www.darulkautsar.com
[10]  Ibn Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, hal.5.
[11] Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an, hal. 212.
[12] Al-Qaradhawi, Berinteraksi dengan al-Qur’an, hal. 500.
[13] Sholah Al-Khalidi, Membedah al-Qur’an Versi al-Qur’an: Upaya Tadabbur Kitabullah di Tengah-Tengah Pesatnya Perdaban Ummat, Terjemahan Muhil D.A. (Surabay: Pustaka Progressif, 1997), hal. 136.

Leave a Reply